ACTANOVA SCHOLARLY ARCHIVE
F

Fuji Raihan Azhari Kusworo

Verified Contributor
Full Name: Fuji Raihan Azhari Kusworo • Country: ID

Published Proceedings Articles (0)

Peer-reviewed conference proceedings articles authored or co-authored in ACTANOVA series.

No proceedings articles registered under this profile.

Preserved Journal Articles (3)

Peer-reviewed scholarly manuscripts preserved & indexed in ACTANOVA Journal Archiving.

JOURNAL ARCHIVE 2025-12-24 • Journal Customary Law • pp. 1–8

Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Menjadi Korban Penculikan Dalam Perspektif Undang-Undang Nomer 35 Tahun 2014 Jo Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2002

Fuji Raihan Azhari Kusworo, Tanti Kirana Utami, Ervina Auralia, Desta Cantika, Moch Rifat Novri Raya Mulyana, Dendi Aulia

Child abduction not only violates human rights but also threatens the future of children who will become the next generation of a nation. In Indonesian law, the protection of children who are victims of abduction is regulated under various laws, including Law Number 35 of 2014, which is an amendment to Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection. A child is a legal subject with special characteristics, whose rights are protected and regulated by specific laws and regulations. Indonesia is a rule of law country as stated in Article 1, Paragraph (3) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The Indonesian Constitution, UUD 1945, as the highest legal norm, stipulates that “Every child has the right to survival, growth, and development, and has the right to protection from violence and discrimination.”

JOURNAL ARCHIVE 2025-04-16 • Journal Customary Law • pp. 12–12

Penghilangan Watermark Digital: Tinjauan Hukum dan Tantangan Penegakannya

Hilman Nur, Nazwa St MAY, Ega Puspita, Fuji Raihan Azhari Kusworo, Natasya Insani Auliarrahma, M Rafly Pradipa, Arfa Fadillah Tanjung, Retno Dwi Lestari

Penghilangan watermark  digital merupakan tantangan besar dalam perlindungan hak cipta di era digital. Watermark  digunakan sebagai alat identifikasi dan perlindungan terhadap karya digital, tetapi keberadaannya dapat dengan mudah dihapus atau dimanipulasi, menimbulkan potensi pelanggaran hak cipta. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif untuk menganalisis aspek hukum terkait penghilangan watermark  digital dalam perspektif Undang-Undang Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014) dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE No. 11 Tahun 2008 jo. UU No. 1 Tahun 2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghilangan watermark  dapat dikategorikan sebagai tindak pidana, terutama jika dilakukan tanpa izin dan berdampak merugikan pemilik hak cipta. Namun, penegakan hukum masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk lemahnya regulasi, keterbatasan forensik digital, serta kurangnya pemahaman aparat hukum terhadap kejahatan siber. Peningkatan kapasitas penegak hukum, penguatan regulasi, dan pemanfaatan teknologi enkripsi serta blockchain dapat menjadi solusi dalam meningkatkan perlindungan hak cipta. Selain itu, kesadaran masyarakat dan pembuat kebijakan perlu ditingkatkan agar perlindungan hak cipta digital semakin efektif dan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah ini, penghilangan watermark  digital dapat diminimalisir, sehingga hak cipta di dunia digital lebih terlindungi dan dihormati.

JOURNAL ARCHIVE 2024-12-28 • Journal Customary Law • pp. 1–10

Tantangan dan Hambatan Penerapan Hierarki Peraturan Perundang Undangan Di Indonesia

Tanti Kirana Utami, Natasya Insani Auliarrahma, Haura Salsabila, Fuji Raihan Azhari Kusworo, Andre Priyaden, M. Andriansyah Saputra

Penerapan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia memegang peranan sentral dalam menjaga keselarasan dan keteraturan dalam proses pembentukan serta implementasi hukum di berbagai tingkatan. Namun dalam praktiknya, penerapan hierarki peraturan perundang-undangan sering kali menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Salah satu permasalahan yang sering muncul adalah tumpang tindih peraturan di berbagai tingkatan, yang menyebabkan kebingungan dalam pelaksanaan hukum. Selain masalah tumpang tindih, penegakan hukum yang tidak konsisten dengan hierarki peraturan juga menjadi persoalan serius. Meskipun secara normatif hierarki perundang-undangan sudah diatur dengan jelas, dalam kenyataannya, implementasi peraturan di lapangan sering kali lebih dominan pada peraturan-peraturan yang berada di tingkat yang lebih rendah. Ketidaksesuaian antara peraturan daerah dengan peraturan yang lebih tinggi dalam hierarki perundang-undangan di Indonesia adalah salah satu masalah utama dalam sistem hukum negara ini.

Preserve & Index
Archive My Journal — Free